Rabu, 06 April 2011

SEJARAH PRAMUKA

Pramuka
Pramuka, atau sering juga disebut pandu atau kepanduan (b. Inggris: Scouting) adalah sebuah gerakan pemuda yang telah merambah ke seluruh dunia. Gerakan kepanduan terdiri dari berbagai organisasi kepemudaan, baik untuk pria maupun wanita, yang bertujuan untuk melatih fisik, mental dan spiritual para pesertanya dan mendorong mereka untuk melakukan kegiatan positif di masyarakat. Tujuan ini dicapai melalui program latihan dan pendidikan non-formal kepramukaan yang mengutamakan aktivitas praktis di lapangan. Saat ini, terdapat lebih dari 38 juta anggota pramuka dari 217 negara dan teritori.


A. SEJARAH PRAMUKA DI DUNIA

Untuk dapat memahami hakekat Pramuka,Kita perlu mengetahui Sejarah pendiri Pramuka di Dunia.Ada banyak yang tahu bahwa Pramuka didirikan oleh Baden Powell,Tapi kadang dia tidak mampu menguraikan Siapa Baden Powell dan ide Pramukanya.
Baden Powell Lahir di London Inggris Tanggal 22 Pebruari 1857 dengan Nama Robert Sthephenson Smyth,Ayahnya bernama Prof.Baden Powell Seorang dosen di universitas Oxford jurusan geometri.Dia belum dewasa ketika Ayahnya meninggal Dunia,Hal inilah yang membuatnya cepat mandiri dan masuk Tentara Kerajaan Inggris.
Gerakan Pramuka dimulai pada tahun 1907 ketika Robert Baden-Powell, seorang letnan jendral angkatan bersenjata Britania raya, dan William Alexander Smith, pendiri Boy's Brigade, mengadakan perkemahan kepanduan pertama di kepulauan Brownsea, Inggris
Ide untuk mengadakan gerakan tersebut muncul ketika Baden-Powell dan pasukannya berjuang mempertahankan kota Mafeking, Afrika Selatan, dari serangan tentara Boer. Ketika itu, pasukannya kalah besar dibandingkan tentara Boer. Untuk mengakalinya, sekelompok pemuda dibentuk dan dilatih untuk menjadi tentara sukarela. Tugas utama mereka adalah membantu militer mempertahankan kota. Mereka mendapatkan tugas-tugas yang ringan tapi penting; misalnya mengantarkan pesan yang diberikan Baden-Powell ke seluruh anggota militer di kota tersebut. Pekerjaan itu dapat mereka selesaikan dengan baik sehingga pasukan Baden-Powell dapat mempertahankan kota Mafeking selama beberapa bulan. Sebagai penghargaan atas keberhasilan yang mereka dapatkan, setiap anggota tentara sukarela tersebut diberi sebuah lencana. Gambar dari lencana ini kemudian digunakan sebagai logo dari gerakan Pramuka internasional.
Keberhasilan Baden-Powell mempertahankan kota Mafeking membuatnya dianggap menjadi pahlawan. Dia kemudian menulis sebuah buku yang berjudul Aids to Scouting (ditulis tahun 1899), dan menjadi buku terlaris saat itu.
Pada tahun 1906, Ernest Thompson Seton mengirimkan Baden-Powell sebuah buku karyanya yang berjudul The Birchbark Roll of the Woodcraft Indians. Seton, seorang keturunan Inggris-Kanada yang tinggal di Amerika Serikat, sering mengadakan pertemuan dengan Baden-Powell dan menyusun rencana tentang suatu gerakan pemuda.
Pertemuannya dengan Seton tersebut mendorongnya untuk menulis kembali bukunya, Aids to Scouting, dengan versi baru yang diberi judul Boy's Patrols. Buku tersebut dimaksudkan sebagai buku petunjuk kepanduan bagi para pemuda ketika itu.
Gerakan Pramuka dimulai pada tahun 1907 ketika Robert Baden-Powell, seorang letnan jendral angkatan bersenjata Britania raya, dan William Alexander Smith, pendiri Boy's Brigade, Kemudian untuk menguji ide-idenya, dia mengadakan perkemahan kepanduan pertama untuk 21 pemuda dari berbagai lapisan masyarakat selama seminggu penuh, dimulai pada tanggal 1 Agustus, di kepulauan kepulauan Brownsea, Inggris. Metode organisasinya (sekarang dikenal dengan sistem patroli atau patrol system dalam bahasa Inggris) menjadi kunci dari pelatihan kepanduan yang dilakukannya. Sistem ini mengharuskan para pemuda untuk membentuk beberapa kelompok kecil, kemudian menunjuk salah satu diantara mereka untuk menjadi ketua kelompok tersebut.
Setelah bukunya diterbitkan dan perkemahan yang dilakukannya berjalan dengan sukses, Baden-Powell pergi untuk sebuah tur yang direncanakan oleh Arthur Pearson untuk mempromosikan pemikirannya ke seluruh Inggris. Dari pemikirannya tersebut, dibuatlah sebuah buku berjudul Scouting fo Boys, yang saat ini dikenal sebagai buku panduan kepramukaan (Boy Scout Handbook) edisi pertama.
Saat itu Baden-powell mengharapkan bukunya dapat memberikan ide baru untuk beberapa oraganisasi pemuda yang telah ada. Tapi yang terjadi, beberapa pemuda malah membentuk sebuah organisasi baru dan meminta Baden-Powell menjadi pembimbing mereka. Ia pun setuju dan mulai mendorong mereka untuk belajar dan berlatih serta mengembangkan organisasi yang mereka dirikan tersebut.
Seiring dengan bertambahnya jumlah anggota, Baden-Powell semakin kesulitan membimbing mereka; Ia membutuhkan asisten untuk membantunya. Oleh karena itu, ia merencanakan untuk membentuk sebuah pusat pelatihan kepemimpinan bagi orang dewasa (Adult Leadership Training Center). Pada tahun 1919, sebuah taman di dekat London dibeli sebagai lokasi pelatihan tersebut. Ia pun menulis buku baru yang berjudul Aids to Scoutmastership dan beberapa buku lainnya yang kemudian ia kumpulkan dan disatukan dalam buku berjudul Roverinng to Success for Rover Scouts pada tahun 1922.

 PERKEMBANGAN GERAKAN KEPANDUAN

Tak lama setelah buku Scouting For Boys diterbitkan, Pramuka mulai dikenal di seluruh Inggris dan Irlandia. Gerakannya sendiri, secara perlahan tapi pasti, mulai dicoba dan diterapkan diseluruh wilayah kerajaan Inggris dan koloninya.
Unit kepanduan di luar wilayah kerajaan Inggris yang pertama diakui keberadaannya, dibentuk di Gilbraltar pada tahun 1908, yang kemudian diikuti oleh pembentukan unit lainnya di Malta. Kanada ialah koloni Inggris pertama yang mendapat ijin dari kerajaan Inggris untuk mendirikan gerakan kepanduan, diikuti oleh Australia, Selandia Baru, dan Afrika Selatan.Chile ialah negara pertama diluar Inggris dan koloninya yang membentuk gerakan kepanduan. Parade Pramuka pertama diadakan di Crystal Palace, London pada tahun 1910. Parade tersebut menarik minat para remaja di Inggris. Tidak kurang dari 10.000 remaja putra dan putri tertarik untuk bergabung dalam kegiatan kepanduan. Pada 1910 Argentina, Denmark, Finlandia, Perancis, Jerman, Yunani, India, Meksiko, Belanda, Norwegia, Russia, Singapura, Swedia, dan Amerika Serikat tercatat telah memiliki organisasi kepramukaan.
Semenjak didirikan, Gerakan Pramuka yang memfokuskan program pada remaja usia 11-18 tahun telah mendapat respon yang menggembirakan, anggota bertambah dengan cepat. Kebutuhan program pun dengan sendirinya bertambah. Untuk memenuhi keinginan dan ketertarikan para generasi muda pada saat itu, gerakan pramuka menambah empat program dalam organisasinya untuk melebarkan lingkup keanggotaan gerakan pramuka. Keempat prpogram tersebut meliputi : Pendidikan Generasi Muda usia dini , Usia Remaja, pendidikan kepanduan putri, dan pendidikan kepemimpinan bagi pembina
Program untuk golongan siaga, unit Satuan Karya, dan Penegak/pandega mulai disusun pada akhir tahun 1910 di beberapa negara. Terkadang, kegiatan kegiatn tersebut hanya berawal di tingkat lokal/ ranting yang dikelola dalam skala kecil, baru kemudian diakui dan diadopsi oleh kwartir nasional. Kasus serupa terjadi pada pendirian golongan siaga di Amerika Serikat, dimana program golongan siaga telah dimulai sejak 1911 di tingkat ranting, namun belum mendapatkan pengakuan hingga 1930
sejak awal didirikannya gerakan kepanduan, para remaja putri telah mengisyaratkan besarnya minat mereka untuk bergabung. Untuk mengakomodasi minat tersebut, Agnes Baden Powel- adik dari bapak kepanduan sedunia, Robert Baden Powell,pada tahun 1910 ditunjuk menjadi presiden organiasi kepanduan putri pertama di dunia. Agnes pada awalnya menamakan organisasi tersebut Rosebud, yang kemudian berganti menjadi Brownies (Girl Guide) pada 1914 .Agnes mundur dari kursi presiden pada tahun 1917 dan digantikan oleh Olave BAden Powell, Istri dari Lord Baden Powell. Agnes tetap menjabat sebagai wakil presiden hingga ia meninggal pada usia 86 tahun.pada waktu tersebut, kepanduan putri telah diposisikan sebagai unit terpisah dari kepanduan pria, hal tersebut dilakukan menimbang norma sosial yang berlaku saat tersebut. Pada era 90-an, Banyak organisasi kepanduan di dunia yang saling bekerjasama antara unti putra dan putri untuk memberikan pendidikan kepanduan.
Program awal bagi pendidikan pembina diadakan di London pada tahun 1910, dan di Yorkshire pada tahun 1911. Namun, Baden Powell menginginkan pendidikan tersebut dapat dipraktekkan semaksimal mungkin. Hal tersebut berarti bahwa dalam setiap pendidikan diperlukan praktek lapangan semisal berkemah. Hal ini membimbing pembentukan kursus Woodbadge. Akibat perang dunia 1, pendidikan woodbadge bagi para pembina tertunda hingga tahun 1919. Pada tahun tersebut, diadakan kursus woodbadge pertama di Gilwell Park. Pada saat ini, pendidikan bagi pembina telah beragam dan memiliki cakupan yang luas. Beberapa pendidikan yang cukup terkenal bagi pembina antara lain : Pendidikan dasar, Pendidikan spesifik golongan, hingga kursus Woodbadge.

 KEANGGOTAAN

Sampai tahun 2005, terdapat lebih dari 28 juta anggota terdaftar kepanduan putra dan 10 juta anggota terdaftar kepanduan putri di seluruh dunia dari 216 negara dan teritori berbeda.

Negara Keanggotaan Tahun Berdiri
Kepanduan Putra Kepanduan Putri
Amerika Serikat
9,500,000 1910 1912
Indonesia
8,100,000 1912 1912
India
3,700,000 1909 1911
Filipina
2,600,000 1910 1918
Thailand
1,400,000 1911 1957
Britania Raya
1,000,000 1907 1909
Bangladesh
950,000 1920 1928
Pakistan
570,000 1909 1911
Kenya
420,000 1910 1920
Korea
280,000 1922 1946
Kanada
260,000 1908 1910
Jerman
260,000 1910 1912
Jepang
240,000 1913 1919
Italia
210,000 1912 1912
Nigeria
160,000 1915 1919
Polandia
160,000 1910 1910
Prancis
150,000 1910 1911
Belgia
150,000 1911 1915
Hong Kong
150,000 1914 1916
Malaysia
140,000 1911 1916


B. GERAKAN PRAMUKA INDONESIA
SEJARAH GERAKA PENDIDIKAN KEPANDUAN NASIONAL

 PENDAHULUAN

Metode pendidikan hanyalah alat dan bukan tujuan. Metode itu selalu berkembang. Metode pendidikan kepanduan tidak bisa dilepaskan dari faktor-faktor pendidikan lainnya khususnya tujuan pendidikan sendiri. Dasar filsafat tujuan pendidikan kepanduan berpangkal pada monodualisme (individualita-sosialita).
Dasar pandangan ini haruslah juga menjadi titik tolak yang diterapkan dalam usaha melaksanakan pendidikan kepanduan. Tujuan gerakan kepanduan Nasional jelas menghendaki agar tidak hanya mendidik kewatak luhur, tetapi juga harus sesuai dengan tujuan masyarakat, Bangsa dan Negara. Karena kebutuhan masyarakat berkembang maka pendidikan kepanduan haruslah pula berkembang. Mendidik dengan cara-cara yang sama saja, sedang masyarakat sudah berkembang tidak akan memberikan hasil yang positif dan memuaskan. Lagi pula pandangan hidup dan kondisi material Indonesia tidak sama dinegara lain. Oleh karena itu metode pendidikan kepanduan di Indonesia perlu disesuaikan dengan kondisi material-spiritual dsb.

 Sebelum Perang Dunia II
Pendidikan Kepannduan Indonesia (1912)
Empat tahun sejak Baden Powell mendirikan scouting pada tahun 1907 di Inggris (perkemahan exsprimen di Brownsea Island) gerakan pendidikan kepanduan berkembang keberbagai Negara Eropah berpedoman kepada buku “Scouting For Boys” karya Baden Powell.
Di Nederland berdirilah Nederlands Padvinders Vereeniging = NPV ( perkumpulan kepanduan tanah Belanda) yang melebarkan sayapnya ke Indonesia pada tahun 1912. Dua tahun kemudian dirasa perlu untuk mendirikan wadah tersendiri di Indonesia maka lahirlah Nederlands Indische Padvinders Vereeninging (NIPV) tahun 1914.
Sesuai situasi pada waktu itu maka usaha ini menitik beratkan kepada kepentingan anak-anak Belanda sekalipun hal itu bertentangan dengan prinsip-prinsip kepanduan. Nafas perjuangan Nasional yang dimulai berkristalisasi sejak 20 mei 1908 membawa pula efek dalam dunia kepanduan. Terasalah keperluan untuk mendirikan kepanduan sebagai usaha kepanduan Nasional yang dijalankan oleh dan untuk anak Indonesia. Pada tahun 1916 berdirilah organisasi kepanduan sebagai usaha kepanduan ndan yang pertama oleh dan untuk anak-anak Indonesia yaitu Javaanse Padvendrs organisatic (JPG) yang sekalipun namanya masih berbau kedarahan namun dapatlah dipandang sebagai usaha pendidikan Nasional yang pertama.
Usaha kepanduan nasional yang pertama ini (Muljadi Djojommartono) masih meniru kepada tehnik dan organisasi Padvidery tetapi telah mempunyai landasan ideal dan nanti pula akan berjalan dan berkembang sendiri. Peniruan kepada Padvindery ini bukanlah suatu persoalan yang luar biasa sebab Padvindery pun meniru scouting dari Baden Powell, kendati pun “Scouting For Boys” dikarang oleh Baden Powell bukan untuk seluruh dunia. Peniruan disini hanyalah pangkal proses adaptasi dan difusi (akulturasi).
Sejak 1916-1922 timbul tidak kurang dari 10 buah organisasi kepanduan nasional yang dapat dikembalikan kepada dua kategori mmenurut landasan prinsipil yang menjadi tumpuannya yaitu yang berdasarkan Agama dan yang umum (netral).
Pada tahun 1928 H.Agus Salim menyedorkan istilh “pandu” sebagai pengganti Padvinders atau Scout. Sejalan dengan itu pula W.R.Supratman menggunakan kata “pandu” dalam pengertian yang sama didalam lagu Indonesia Raya.
Gerakan kepanduan di Indonesia sebagai bidang kegiatan anak-anak dan pemuda Indonesia tidak ketinggalan didalam perjuangan menegakkan harkat dan martabat bangsa Indonesia seperti kita lihat sejak lahirnya JPO tahun 1916. Sebagai perwujudan dari pada semangat dan kesadaran bersatu seperti yang diikrarkan dalam Sumpah Pemuda berdirilah pada tahun 1929 “Persaudaraan Antar Pandu Indonesia” (BPPKI).
Makin lama bertambah pesatlah tumbuhnya organisasi kepanduan Nasional, baik yang netral maupun yang religius dan bertambah pula partisipasi mereka dalam proses perjuangan kebangsaan. Paralel dengan usaha bersatu dikalangan gerakan politik pada tanggal 30 April 1938 gerakan kepanduan melanjutkan suatu tindakan convergerend dengan lahirnya federasi “Baden Pusat Persaudaraan Kepanduan Indonesia” (BPPKI).
Pada tanggal 6 february 1943 seluruh organisasi kepanduan dibubarkan oleh Pemerintah Pendudukan Jepang, tetapi pada hakekatnya hanyalah bentuknya yang hilang sedang jiwa Kepanduan masih berkembang terus dan hidup dalam dada setiap pecinta kepanduan waktu itu yang nanti akan menampakkan kembali yang kegiatannya sesudah tekanan pendudukan Jepang lenyap.

 Sesudah Perang Dunia II

Gerakan kepanduan yang sejak semula telah mengambil bagian aktif dalam perjuangan bangsa tidak bisa melepaskan dirinya dari pihak klimaks perjuangan pada tahun 1945. Untuk dapat berintegrasi lebih aktif dan fositif dengan masyarakat yang sedang berjuang gerakan kepanduan menghidupkan kembali dirinya dalam satu wadah berupa organisasi kesatuan dengan nama “Pandu Rakyat Indonesia” pada tanggal 28 Desember 1945. Tetapi kemudian terpengaruh oleh dinamika proses sosial dalam alam demokrasi liberal terbentuklah pula berbagai organisasi kepanduan disamping Pandu Rakyat Indonesia, sehingga pada awal tahun 50 an terasa perlu untuk membentuk satu wadah federatif yaitu Ikatan Pandu Indonesia (IPINDO) pada tanggal 16 september 1951 dengan 14 organisasi anggota yaitu : P.R.I, P.I.I., H.W., Pandu khatolik, Pandu Kristen Indonesia, pemerintah Pandu, Persatuan Kepanduan Tionghoa Indonesia (PERKETI), AL Irsyad, Surya Wirawan, Kepanduan Angkatan Muda Indonesia, S.I.A.P., Pandu Anshor, Kepanduan Bangsa Indonesia dan Pandu Washliyah ditambah dengan AL Anzar yang menampung kira-kira 125.000 anggota dari sejumlah kira-kira 150.000 orang Pandu di Indonesia pada waktu itu. Sisa kira kira 25.000 orang bergabung dalam 50 organisasi yang belum tergabung dengan IPINDO.
Situasi sosial politik sekitar tahun 1955 mempengaruhi pula dunia Kepanduan yang menjuruskan kepada perpecahan yang makin meruncing. Dekrit kembali kepala UUD 1945 (5 juli 1959) membawa suasana baru dikalangan pemimpin Kepanduan yakni hasiat untuk tergabung kembali kedalam suatu wadah yang lebih ketat, sehingga lahirlah PERKINDO pada tanggal 7 mei 1960. Pelajaran penting yang perlu kita kutip dari pada proses sejarah Kepanduan itu bukanlah data historis, melainkan relasinya kepada realita sejarah “
a. Kita lihat bahwa dalam realita sejarah ada kontradiksi antagonisme yaitu adanya berpuluh organisasi kepanduan disatu pihak dengan berbagai bentuk dan coraknya, sedang dilain pihak adanya selalu hasrat untuk bergabung, bersatu dalam satu wadah atau ikatan yang lebih besar.
b. Ternyata bahwa dalam proses perjuangan bangsa gerakan Kepanduan selalu mengambil bagian secara aktif dan positif.
c. Sejak semula Gerakan Kepanduan Nasional Indonesia sadar bahwa Kepanduan adalah salah satu cara mendidik generasi muda pisik dan mental untuk menjadi Pandu Ibu Pertiwi. Untuk itu telah diambilnya sistem B.P. yang aspek tehnisnya diadaptasi kepada identity Bangsa, sedang aspek filosofisnya tidak dipakai. Hal ini telah terbukti dengan adanya dua kategori organisasi Kependuan yaitu yang berdasar Agama dan netral dimana keduanya tidak pernah melupakan corak keIndonesiaanya.
Dari ke-3 realita sejarah itu dapatlah disimpulkan bahwa proses kelahiran Gerakan Pramuka hanyalah satu konsekwensi logis dari pada desakan-desakan hasrat Pandu Indonesia untuk berpadu dalam ikatan rantai kebangsaannya.

 Lahirnya Gerakan Pramuka

a. Sebab-musabab lahirnya Gerakan Kepanduan Pramuka haruslah kita cari dalam proses historisnya dalam rangka proses perjuangan bangsa yang lebih besar. Tetapi alasan-alasan yang mempercepat lahirnya Gerakan Pramuka haruslah dicari pada situasi yang menjadi background organisasi gerakan Kepanduan sekitar tahun 1959-1961, peristiwa-peristiwa hangat dan meruncing dalam konstituante telah menjalar keluar dan merembas pula kedalam dunia Kepanduan, sekali pun ada ketentuan-ketentuan moral dan janji Pandu yang meningkat. demikian pula sistem Multy Party tercermin pada adanya 66 organisasi Kepanduan dengan aneka corak dan ragamnya. Konkurensi yang negatif, baik kwalitatif maupun kwantitatif, dari keadaan pecah aktivitas berlainan dan kwantitatif jumlahnya kecil. Kwalitatif ada yang memenuhi keinginan dan harapan masyarakat dan ada pula yang tidak, padahal Kepanduan adalah onderdiel (bagian) daripada masyarakat itu. Timbul angggapan bahwa Kepanduan hanyalah sekedar suatu hobby orang tua dan anak-anak (spiel) ataupun Kepanduan dianggap tempat pelarian dan penyaluran orang-orang yang ambisisnya tidak terpenuhi dengan baik.

Tokoh-tokoh Kepanduan yang progressif berusaha menanggulangi kemunduran gerakan Kepanduan, tetapi sementara itu ada usaha dari golongan komunis untuk menghapus Kepanduan dan mendirikan pioner. Tokoh-tokoh Kepanduan keberatan atas usaha itu dan pada tanggal 22 november 1960 DR.Azis Saleh salah seorang tokoh IPINDO menghadap Presiden (waktu itu IR.Soekarno) untuk membicaraka soal Kepanduan, presiden membicarakan persoalan itu dengan menteri PKK (Dr.Prijono). pada tanggal 25 Nopember 1960 terbit berita “Antara” bahwa ada Perintah Presiden “agar Pramuka Pioner dipercepat”. Golongan kepanduan tidak puas dan Dr.Azis Saleh sekali lagi menghadap Presiden pada tanggal 29 Nopember 1960 untuk minta ketegasan. Presiden (Ir. Soekarno) mengelak dan berkata bahwa bukanlah maksudnya agar Kepanduan dirobah dan disesuaikan dengan masyarakat luar manapun (Inggris maupun Rusia) hanya dikehendakinya agar gerakan kepanduan diretool dan agar fase Kepanduan tegas diabad lampau dan kita masuki fase baru.
Pimpinan kepanduan yang tergabung dalam PERKINDO berkumpul dan oleh Sultan Hamungkubuwono disampaikanlah pendirian Presiden menimbulkan kegencangan sekalipun pada umumnya gagasan persetujuan disetujui.
Tetapi sementara itu ketetapan MPRS No.II/MPRS/1960(Desember 1960) menurut keputusan antara lain berbunyi “Pendidikan Kepanduan Supaya diintensifkan Dan Menyetujui Rencana Pemerintah Untuk Mendirikan Pramuka (organisasi anak-anak)”.
Hal ini merupakan keadaan yang gawat bagi dunia kepanduan Indonesia. Kepanduan tak bisa dihapuskan mengingat jasa-jasanya kepada perjuangan. Bagi Kepanduan Indonesia timbul persoalan, apakah Pandu Indonesia identik dengan boys scout.
Pada tanggal 9 maret 1961 diucapkan amanat Presiden yang berpokok pada 3 persoalan yaitu:
1. Gerakan pramuka harus serapi dengan pertumbuhan bangsa dan masyarakat.
2. Untuk penyesuaian itu perlu ditingkatkan dalam aktivitas agar sesuai dengan harapan masyarakat.
3. Gerakan Kepanduan bergerak dalam satu wadah kesatuan.
Mula-mula amanat ini menggoncangkan para pemimpin pandu dan menggirangkan para konseptor pioner (komunis), tetapi dengan kewarasan para pimpinan Pandu serentak bersedia merobah nama menjadi Pramuka sesuai “dictum” ketetapan MPRS dan isi amanat 9 maret 1961 itu. Sebab jika tidak demikian berarti aka ada Kepanduan lain (pioner) yang didirikan oleh pemerintah dan direstui oleh ketetapan MPRS disamping kepanduan yang ada akhirnya akan tentu terdesak.
Jadi tindakan-tindakan para pimpinan Pandu waktu itu adalah bergerak dan berorganisasi dibawah satu nama yaitu “Gerakan Pramuka” dan mengisi gerakannya itu dengan data Kepanduan yang ditingkatkan sedang istilah “Pandu” ditempatkan pada platform yang lebih agung dan ideal sebagai Ibu Pertiwi. Dengan tindakan itu maka praktis usaha golongan pioner telah gagal, sekalipun mereka berkali-kali berusaha sesudah itu untuk merebut posisi kunci namun selalu dapat dikecilkan dengan ditandaskannya landasan religius bagi Pendidikan Kepanduan Pramuka.
b. Dua Surat Keputusan
Untuk memberikan landasan yang yuridis formil kepada panitia Pembentukan Gerakan Pramuka yang tersebut namanya dalam amanat 9 maret 1961 ditunjuk H.Muhtar untuk mempersiapkan konsep Surat Keputusan Presiden, tetapi oleh sekretariat Negara diberi tahukan bahwa pembentukan Gerakan Pramuka telah diterbitkan dengan No.109/1961 tanggal 30 Maret 1961 yang menyatakan terbentuknya Gerakan Pramuka pioner dengan dukungan badan Pembantu Pelaksanaan Pembentukan Pramuka, hal mana tidak sesuai dengan amanat 9 Maret 1961 dimana pembentukan itu diserahkan kepada Sultan Hamengkubuwono dan Dr. Azis Saleh dan Ahmadi. Pada hal Hamengkubuwono dan Dr.Azis Saleh tidak tahu menahu tentang keputusan No. 109/1961 tersebut.
Melalui Dr.Azis Saleh berita itu disampaikan kepda Sultan Hamungubuwono yang melanjutkan protesnya kepada Seokarno (via telepon) di Bandung. Soekarno mengintruksikan pembekuan Surat Keputusan tersebut.
Pada tanggal 11 April 1961 terbitlah surat keputusan No.121/1961 yang mensahkan adanya panitia terdiri dari 5 orang yaitu ketambahan Muljadi Djojomartono. Panitia ini telah menghasilkan sebuah Anggaran Dasar Gerakan Pramuka yang dilampirkan pada Surat Keputusan No.238/1961 tanggal 20 mei 1961 dan ditanda tangani oleh Pj.Presiden Ir.Soekarno.
Surat Keputusan No.238/1961 dalam konsiderans antara lain menyatakan bahwa :
a. Gerkan Pramuka berpaham Pancasilais dan negara Centris.
b. Kegiatannya dilakukan didalam lingkungan anak-anak dan pemuda dengan jalan Kepanduan yang disesuaikan dengan pertumbuhan bangsa dan masyarakat.
Isi keputusan itu menyatakan terbentuknya Gerakan Pramuka dan pelarangan adanya organisasi sejenisnya atau yang menyamainya dan pada keputusan itu dilampirkan A.D.Gerakan Pramuka.
Dengan terbitnya surat keputusan itu maka golongan pioner telah dapat dilumuhkan sama sekali. Berbagai usaha infiltrasi dan sabotase yang dilakukan kemudian tidak memberi hasil apa-apa.
Surat keputusan lain yang berhubungan dengan pembinaan Gerakan Pramuka adalah Surat Keputusan Presiden No.448/1961 tanggal 14 Agustus 1961. Dalam konsiderans keputusan ini terdapat dua pengertian mengenai pramuka yaitu sebagai gerakan pendidikan dan sebagai organisasi. Sebagai Organisasi, Gerakan Pramuka merupakan penyempurnaan dari pada pendidikan Kepanduan yang telah menyumbangkan sahamnya dalam perjuangan bangsa Indonesia. Atas jasa-jasanya itu Negara berkenan menyamaikan penghargaan tertingggi berupa panji-panji sebagai tanda Kehormatan, Samkarya Nugraha.

------------------------------------
TURUNAN NST.720/61
SEKRETARIAT NEGARA
KEPUTUSAN
PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA
NO.238 TAHUN 1961
TENTANG
GERAKAN PRAMUKA

KAMI, PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA
Menimbang : a. Bahwa anak-anak dan pemuda Indonesia perlu dididik untuk menjadi manusia dan warga Negara Republik Indonesia yang berkepribadian dan berwatak luhur, yang cerdas, cakep, tangkas, terampil dan rajin, yang sehat jasmaniah dan rokhaniah, yang berpancasila dan setia-patuh kepada Negara Kesatuan Republik Indonesia atas landasan-landasan Manusia-Sosialis Indonesia, sehingga dengan demikian anak-anak dan pemuda Indonesia menjadi kader pembangunan yang cakap dan bersemangat bagi penyelenggaraan Amanat Pemberitaan Rakyat.
b. Bahwa pendidikan untuk mencapai maksud dan tujuan tersebut diatas itu harus dilakukan dalam lingkungan anak-anak dan pemuda disamping pendidikan dilingkungan keluarga dan disamping pendidikan dilingkungan sekolah, dan harus diselenggarakan dengan jalan Kepanduan yang disesuaikan dengan pertumbuhan Bangsa dan masyarakat Indonesia dewasa ini :
c. Bahwa sesuai dengan ketentuan-ketentuan dalam ketetapan Majelis Permusyawaratan Rakyat Sementara No.1/MPRS/1960, tanggal 19 Nopember 1960, tentang garis-garis Besar Haluan Negara, dan Ketetapan Majelis Permusyawaratan Rakyat Sementara No.II/MPRS/1960, tanggal 3 Desember 1960, tentang garis-garis Besar Pola Pembanguna Nasional Semesta Berencana Tahanan Pertama 1961-1969 yang mengenai pendidikan pada umumnya dan pendidikan kepanduan pada khususnya, perlu menetapkan satu Organisasi gerakan pendidikan kepanduan yang tungggal untuk diberi tugas untuk melaksanakan pendidikan tersebut diatas.

Menimbang : a. Pasal 4 ayat 1 Undang-Undang Dasar Republik Indenesia
b. Ketetapan Majelis Permusyawaratan Rakyat Sementara, No.1/MPRS/1960, tanggal 19 Nopember 1960, tentang garis-garis Besar Pola Pembanguna Nasional Semesta Berencana Tahanan Pertama 1961-1969.
Mengingat : a. Undang-Undang No. 10 Prp tahun 1960 (kembaran negara tahun 1960 No.31)
Mendengar : Ketua Panitia Pembentukan Gerakan Pramuka
MEMUTUSKAN
Menetapkan :
Pertama : Penyelenggaraan Pendidikan kepanduan kepada anak-anak dan pemuda indonesia ditugaskan kepada perkumpulan GERAKAN PRAMUKA.
Kedua : Diseluruh wilayah Republik Indonesia perkumpulan GERAKAN PRAMUKA dengan Aggaran sebagaimana tertera pada lampiran surat keputusan ini adalah satu-satunya badan yang diperbolehkan menyelenggarakan pendidikan kepanduan itu.
Ketiga : Badan-badan lain yang sama, yang sama sifatnya, atau yang menyerupai perkumpulan GERAKAN PRAMUKA, dilarang adanya.
Keempat : Surat keputusan ini mulai berlaku pada tanggal 20 mei 1961.
Ditetapkan di Jakarta
Pada tanggal 20 mei 1961
PEJABAT PRESIDEN
REPUBLIK INDONESIA
TTD
JUANDA
Sesuai dengan yang asli
Ajun Sekretaris Negara,
ttd Mr.Santoso
(Brosur anggaran dasar dan rumah tangga penerbit Kwartir Daerah Gerakan Pramuka Sulawesi Selatan 1975 hal 5-7)








Catatan : Anggaran Dasar Geraka Pramuka Sebagaimana Terlampir Pada Keputusan Presiden Republik Indonesia No. 238 Tahun 1961 Telah Dicabut, Diganti Dengan Anggaran Dasar Gerakan Pramuka Hasil Musyawarah Majelis Permusyawaratan Pramuka I Tanggal 12-20 Oktober 1970 di Pandaan Sebagaimana Terlampir Pada Keputusan Presiden Republik Indonesia No. 12 Tahun 1971.






Bapak Pramuka
SIAPAKAH BELIAU ?
Sri Sultan Hamengkubuwono IX ( Sompilan Ngasem, Yogyakarta, 12 April 1912 - Washington, DC, AS, 1 Oktober 1988 ) adalah seorang Raja Kasultanan Yogyakarta dan Gubernur Daerah Istimewa Yogyakarta. Beliau juga Wakil Presiden Indonesia yang kedua antara tahun 1973-1978. Beliau juga dikenal sebagai Bapak Pramuka Indonesia, dan pernah menjabat sebagai Ketua Kwartir Nasional Gerakan Pramuka (1961 - 1974)
Biografi
Lahir di Yogyakarta dengan nama GRM Dorojatun pada 12 April 1912, HamengkubuwonoIX adalah putra dari Sri Sultan Hamengkubuwono VIII dan Raden Ajeng Kustilah. Diumur 4 tahun Hamengkubuwono IX tinggal pisah dari keluarganya. Dia memperoleh pendidikan di HIS di Yogyakarta, MULO di Semarang, dan AMS di Bandung. Pada tahun 1930-an beliau berkuliah di Universiteit Leiden, Belanda (”SultanHenkie”).
Hamengkubuwono IX dinobatkan sebagai Sultan Yogyakarta pada tanggal 18 Maret 1940 dengan gelar “Sampeyan Dalem Ingkang Sinuwun Kanjeng Sultan HamengkubuwonoSenopati Ing Alogo Ngabdurrokhman Sayidin Panotogomo Kholifatulloh Ingkang Kaping Songo”. Beliau merupakan sultan yang menentang penjajahan Belanda dan mendorong kemerdekaan Indonesia. Selain itu, dia juga mendorong agar pemerintah RI memberi status khusus bagi Yogyakarta dengan predikat “Istimewa”. Sejak 1946 beliau pernah beberapa kali menjabat menteri pada kabinet yang dipimpin Presiden Soekarno. Jabatan resminya pada tahun 1966 adalah ialah Menteri Utama di bidang Ekuin.
Pada tahun 1973 beliau diangkat sebagai wakil presiden. Pada akhir masa jabatannya pada tahun 1978, beliau menolak untuk dipilih kembali sebagai wakil presiden dengan alasan kesehatan. Namun, ada rumor yang mengatakan bahwa alasan sebenarnya ia mundur adalah karena tak menyukai Presiden Soeharto yang represif seperti pada Peristiwa Malari dan hanyut pada KKN.
Minggu malam pada 1 Oktober 1988 ia wafat di George Washington University Medical Centre, Amerika Serikat dan dimakamkan di pemakaman para sultan Mataram di Imogiri.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar